Kegigihan membawa berkah

e“ Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
Siapakah mereka
Akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
Mereka cinta kasih yang bergerak
menghidupi desa demi desa…”
( Perempuan-perempuan Perkasa-Hartoyo Andangjaya- )

Yang terlihat hanya gerak matahari yang semakin tinggi setiap pagi di kampus ini. Yang terdengar hanya suara kendaraan yang lalu lalang disekitar lokasi parkir, dan yang terasa setiap kali hanya ketergesa-gesaan memasuki ruang kuliah. Namun kali ini berbeda. Inilah rutinitas yang selalu terjadi setiap harinya di kampus kita, Universitas Brawijaya. Perjuangan yang begitu gigih mencari nafkah dengan menjadi pedagang sederhana untuk menghidupi keluarga. Ini secuil potret kehidupan segolongan rakyat kecil yang mungkin tidak pernah terlintas dalam pikiran kita.
Tidak ada satu pum manusia yang ingin hidup susah. Memang tak bisa dipungkiri, jika dilihat dari kacamata masyarakat, profesi PKL ( Pedagang Kaki Lima ) memang kurang begitu enak didengar. Hidup susah, berpindah pindah dan sering berurusan dengan pihak keamanan sering menyertai suka duka kehidupan mereka. Namun, keadaan yang seperti ini tidak lantas membuat Agus, 45 tahun putus asa.
“ Saya kira-kira sudah hampir sepuluh tahun berjualan di sini. Selama itu tentunya banyak sekali pengalaman suka duka berjualan di dalam kampus, “ beliau memulai ceritanya.
“Hidup merupakan suatu perjuangan, jangan pernah menyerah jika ingin sukses, “ kata bapak dua anak ini riang.
Yang jelas keuletan tanpa didukung kemampuan mengaplikasikan usaha menjadi percuma. “ Ya, kita menyadari kedudukan kita sebagai pedagang kecil. Pelayanan terhadap mahasiswa yang harus diutamakan. Merekalah sumber rezeki saya, jika tidak mahasiswa, siapa lagi. Kita bingung juga, “ tambahnya.
Awalnya sekitar tahun 2000-an PKL yang ingin berjualan di lingkungan Universitas Brawijaya masuk secara bebas tanpa tanpa adanya larangan masuk dan berjualan di sekitar kampus. Namun, para pedagang-pedagang liar ini sering juga tertangkap jika ada penertiban mendadak karena sebelum mereka berjualan di dalam tidak meminta izin terlebih dahulu ke pihak kampus. Padahal, sesuai dengan prosedur, jika pedagang-pedagang ini baru bis a berjualan di dalam kampus jika telah meminta izin dan melaporkan data diri mereka ke LPM ( Lembaga Penelitian Masyarakat ).
Banyak sekali pedagang yang tidak mau repot dan asal dapat untung. Dari sinilah kemudian pada akhir tahun 2002, muncul konflik antara pihak kampus dengan PKL sebab rektorat telah menurunkan surat tugas dalam rangka pembinaan PKL di Universitas Brawijaya. Keadaan ini semakin memuncak karena PKL yang tergabung di dalam Paguyuban ini merasa tidak terima jika PKL harus ditiadakan dari kampus. Mereka sangat menginginkan adanya kebijakan dari pihak Universitas Brawijaya agar mereka tetap diizinkan berjualan di wilayah kampus.
“ Saat itu ramai dan kisruh sekali. Banyak sekali PKL ( Pedagang Kaki Lima ) yang menuntut agar tetap bisa berjualan di dalam lingkungan kampus. Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang membantu PKL ( Pedagang Kaki Lima ) yang tergabung dalam paguyuban ini untuk berdemo menuntut pihak universitas Brawijaya,” ungkap pria asli Malang ini.
“ Alhamdulillah, akhirnya saya masih bisa mencari rezeki di kampus Brawijaya ini,” ceritanya dengan wajah sumringah. Memang keadaannya yang sekarang ini jauh dari impiannya dahulu saat masih duduk di bangku SMP, “ Dulu saya ini pengen sekali jadi pengusaha yang sukses, eh sekarang jadi PKL yang sukses…amin. Ya semoga saja, saya ini orangnya nggak neko-neko kok,” celoteh Agus Santoso sembari tertawa renyah.
Meskipun kalau dihitung hitung penghasilannya sebagai PKL bisa dikatakan pas pasan saja. Setiap harinya dia hanya memperoleh penghasilan kotornya 300-500 ribu. Sebagai tukang jualan es degan ini sudah lumayan besar, setidaknya sudah cukup untuk balik modal dan menghidupi 1 istri, 1 ibu dan 2 anaknya. Bahkan sampai sekarang Agus dapat menyekolahkan kedua anaknya sampai pada jenjang SMA. Usaha kecilnya pun kini mulai berkembang. “ Dulu saya hanya usaha sendirian, kadang-kadang saja istri saya ikut berjualan, namun sekarang saya sudah bisa nambah modal dan ada tiga orang saudara yang bisa ikut kerja bantu-bantu saya. Memang laba dari penjualan dagangan saya ini kecil tapi lama kelamaan usaha itu pasti berkembang. Semoga saja untuk ke depannya pihak universitas tetap memberikan kesempatan saya mengais rezeki di sini dengan lancar tanpa ada masalah lagi,” pungkasnya. (oik)

kata kata adalah pedang
diasah oleh nurani
dipertajam oleh pikiran
ditebaskan oleh yang berani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: